Masih teringat ketika aku ingin mengikuti salah satu konferensi internasional di luar negeri. Waktu itu, malam hari, habis isya. AKu bersama temanku mencari-cari informasi tentangnya. Banyak pilihan waktu itu. Bangkok, Kuala Lumpur, New Delhi, Manila, dan lain-lain. Setelah searching beberapa sumber di daring, aku menemukan website international conference di Tokyo, Jepang. Waktu itu masih banyak waktu untuk apply. Sekitar 5 bulanan lagi. Aku coba membuka website dari International conference tersebut. “Menarik”, gumamku dalam hati. Kemudian aku memutuskan untuk menjadi salah satu presenternya. I believe I can.
Namanya, the 6th International Conference on History and Society Development, tanggal 29-31 Desember 2016. Aku berpikir, “wah.. pas Winter nih”. Cocok. Tahap lanjutan adalah menulis artikel yang akan dipresentasikan. Di konferensi ini, ada peluang untuk menulis di Jurnal Internasional jika lolos seleksi papernya. Aku kemudian mencari tema yang cocok, yang sesuai dengan tema seminar ini.
Waktu itu, aku dan teman-teman sedang berkumpul menunggu salah satu teman yang sedang sidang skripsi. Ketika aku sedang duduk bersebelahan dengan Fanda –teman satu jurusan yang besoknya akan ujian skripsi, dan melihat ada tumpukan kertas A4 yang tebal. Aku kemudian bertanya, bolehkan aku melihat itu. Aku membuka bait demi bait tulisan yang tertera tersebut. Bagus! Aku ada ide. Aku tawarkan kepada Fanda, bagaimana kalau tulisannya aku presentasikan di Jepang dan masuk ke Jurnal Internasional. Fanda kemudian setuju. Kita berjabat tangan. Deal!
Selang beberapa minggu, perjuangan pun di mulai. Aku mulai menulis arikel singkat dari topik yang akan aku presentasikan. Bukan sesuatu yang mudah, dan bukan juga sesuatu yang sulit. Tema yang akan kami angkat adalah tentang Sejarah Militer. Memang banyak hal yang belum aku ketahui tentang dunia militer. Apalagi pangkat-pangkat jabatan, dan singkatan yang kadang membingungkan. Selah beberapa hari done!. Aku bisa menulis paper kurang lebih 7 halaman, sudah termasuk preference. Karena Bahasa Inggrisku belum mahir, aku kirim draft paperku ke mba Dwis, teman dekat sekaligus penyedia jasa translation.
Setelah artikel jadi, selanjutnya adalah submit paper di website konferensi. Setelah melengkapi beberapa berkas yang lain, akhirnya bisa tersubmit. Tinggal menunggu pengumuman. Dan yes, lolos! Tapi perjuangan masih terus dilakukan. Yaitu harus membayar fee sebesar 500 Dollars, atau setara dengan 6jt++ Rupiah. Wow.. angka yang fantastis bukan. Iya, betul. Aku kembali memutar otak agar mendapatkan uang segitu. Minta orang tua? No no no. Can not. Dan salah satu caraku adalah mengajukan proposal ke Universitas.
Pengajuan dana ke Universitas, tak berjalan mulus. Dalam proposal, yang akan berangkat menghadiri konferensi adalah aku dan Fanda. Dan kurang lebih membutuhkan dana sekitar 15jt/orang, atau sekitar 30jt/orang. Huffttt… memang terdengar mustahil. Tapi tetap aku coba. Pengumuman dana turun hanya keluar. Dan bantuan dari Univ. adalah 500 Dollars atau hanya untuk biaya fee-conferencenya. Wah okelah, tidak apa-apa. Aku harus kembali mencari dana lagi untuk berangkat. Khususnya untuk tiket pesawat ke Tokyo.
Perjuangan sebar proposal dimulai. Aku dan Fanda membuat banyak sekali proposal. Entah berapa proposal yang sudah kami buat. Kalau dihitung-hitung, ada sekitar 40 Proposal. Aku masukin ke Bank-Bank negeri/swasta di Jogjakarta, seperti BNI, BRI, Mandiri, Danamon, BKR, BPD DIY, dan lain. Aku masukin juga ke Kementerian Pendidikan, dan Kemenristekdikti. Dan lain-lain. Bahkan Fanda menyebarkan proposal ke Bupati Klaten, DPRD DIY, dan lain-lain. Ah sungguh melelahkan mencari dana.
Selang beberapa bulan. Muncul satu persatu pengumuman dari hasil sebar proposal tersebut. “Maaf mas Akhmad, kami belum bisa berpartisipasi”. Begitulah jawaban dari salah satu target sponsor kami. Namun, 1bulan sebelum keberangkatan, aku mendapat pesan Email, bahwa proposal akan cair beberapa hari lagi. Alhamdulillah.. pesan itu dari Direktoral Jenderal Kemahasiswaan Kemenristek DIKTI. Setelah itu, aku mendapat surat dari Kemenristek, dan berisikan bahwa kami dibantu sebesar 5jt Rupiah. Whattt! Sungguh diluar ekspetasi kami. Aku mengajukan dana sebesar 50jt untuk dua orang. Namun, yang cair hanya 5jt. Dan uang tersebut hanya bisa diambil jika acara sudah selesai. Whattt!
Selang beberapa hari, aku ngobrol dengan Fanda tentang situasi ini. Kami siap menerima nasib terburuk jika kami tidak bisa berangkat. Atau hanya salah satu dari kami yang akan berangkat. “Oke, begini fan.. 5jt itu sedikit sekali untuk dua orang. Tiket pesawat saja sekarang sudah 5jt untuk berangkat, belum pulangnya. Begini.. Kita save saja dulu uang 5jt itu. Aku bakal cari dana lagi ke Rektorat. Dan sekarang, kamu urus saja paspor kamu dulu (Buat Paspor)”. Fanda memang saat itu belum punya paspor.
Aku mencari-cari lagi bagaimana caranya untuk bisa mendapat dana dari Rektorat. Pantang menyerah. Itulah kuncinya. Akhirnya, teman senior memberi masukan untuk mengajukan ke kemahasiswaan Univ. lewat perwakilan UKM. Aku coba. Dan ternyata berhasil. Turun 3jt. Oke. Ada 8jt ditangan. Ppffttt.. masih kurang. Terpaksa, aku meminta uang dari Keluarga akan hal ini. Setelah berdiskusi dengan Fanda, akhirnya yang berangkat hanya aku.
Biaya ke Jepang memang mahal. Apalagi Tokyo terkenal dengan salah satu kota termahal di Asia. Ah.. Bagaimana ini. Dan aku terbantu lagi oleh temanku yang bekerja disana. Aku dapat menghemat biaya hotel, dan juga makan of course .. hehe
“Breeeenggg…” anggap saja suara pesawat. Tanggal 28 Desember, aku berangkat dari Jakarta-Kuala Lumpur-Tokyo. Perjalanan memakan waktu sekitar 8 jam jika transit tidak dihitung. Pertama kali menginjakan kaki di negeri matahari terbit, aku disuguhi dengan udara yang super dingin. Waktu itu aku tak tau berapa derajat celcius udara disitu. Tapi yang jelas, di Tokyo tidak ada Salju! Hahaha menggenggam salju memang impianku sedari dulu. Tapi tak apalah. Tetap bersyukur.
Acarapun dimulai. Tanggal 30 Desember, pukul 09.00 waktu jepang. Aku dan peserta yang lain masuk, dan mendengarkan serangkaian seremonial yang berlangsung. Pukul 13.00, giliran para presenter memaparkan papernya. Dan aku giliran yang ke-tiga. Setelah presentasi aku duduk kembali dan mendengarkan presenter yang lain memaparkan materinya. Sekitar pukul 17.00 acara baru selesai. Dan ditutup dengan penghargaan bagi presenter terbaik. Tak disangka sebelumnya, aku mendapatkan penghargaan tersebut. Sebagai the Best Presenter in the 6th International Conference on History and Society Development 2016 Tokyo, Japan. Alhamdulillah.. Perjuanganku membuahkan hasil. Acara dilanjutkan dengan acara makan malam, hingga pukul 20.30. Aku berdiskusi dengan professor luar negeri. Dan yang memotivasi saya adalah keharanan meraka melihat mahasiswa S1 ikut International Conference. Tapi, mungkin itu hanya keberuntungan saja aku bisa bersama mereka.
Liburan pun dimulai. Tanggal 31 Desember 2016, atau tahun baru-an aku di Jepang. Tidak ada yang special ketika aku disana. Hanya capek saja. Hohoho Aku di Tokyo bertemu dengan Farel, teman dari Thailand sewaktu aku berkunjung ke Suranaree University of Technology untuk acara pertukaran budaya. Akhirnya, bisa bernostaligia dengan teman dari luar negeri. Senang rasanya, jika bertemu dengan mereka. Teman Jauh. Kami jalan-jalan ke Odaiba. Menikmati tepian laut di pulau buatan itu. Indah.
Oke deh. Mungkin itu saja cerita perjalananku. Bye bye. See u next