Thursday, August 3, 2017

Perjalanan ke Banyuwangi dan Pesan Pak Husain

Pagi itu, aku sudah bersiap-siap berangkat ke stasiun. Ya benar.. hari itu aku menemani Prof. Husain Haikal ke Banyuwangi. Tujuannya adalah berkunjuk ke pondok pesantren Gontor 5, Banyuwangi. Aku diajak untuk membantu beliau dalam perjalanan.

Setelah sampai stasiun lempunyangan dengan menggunakan sepeda motor, aku dan pak husain menunggu panggilan untuk penumpang kereta Sri Tanjung, tujuan Banyuwangi. Selang beberapa lama, akhirnya para penumpang diperkenankan untuk masuk ke dalam wilayah ruang tunggu, untuk masuk ke gerbong kereta, dengan menunjukan tiket dan kartu identitas. Saat itu, ada perdebatan kecil antara petugas stasiun dengan pak husain. Pak husain tidak bawa katu identitas yang asli, tetapi hanya fotocopy KTPnya. Dari belakang, aku hanya bisa diam melihat perdebatan itu. Tapi yang kau ingat adalah jawaban pak husain yang membuat petugas stasiun itu terdiam. Kurang lebih seperti ini, “lihat fotocpy KTP ini. Apakah menipu? Hanya di Indonesia, para penumpang dipersulit!”. Akhirnya, kami dipersilahkan masuk.

Setelah menunggu kurang lebih 10 menit, kereta Sri Tanjung jurusan Banyuwangi siap berangkat dari Lempunyangan. Aku mencari tempat duduk sesuai dengan apa yang tertera di tiket. Kami berjalan kearah ekor kereta karena gerbong kami nomer dua dari akhir. Sesekali pak husain berkata kepadaku, “Ozy.. kalau di Malaysia, pintu gerbong kereta itu tepat sesuai dengan garus kuning ini”, kata beliau sambil menunjukan garis penanda jarak penumpang dan kereta. Dan kali itu, aku hanya bisa mengangguk mengiyakan. 

Setelah menemukan duduk, aku taruh tas kami di kabin tepat diatas tempat duduk kami. Perjalanan Yogya-Banywangi memakan waktu kurang lebih 12 jam. Perjalanan yang panjang dan cukup melelahkan. Didekat jendela tempat dudukku, dan disampingku beliau. Aku menikmati indahnya pemandangan yang terhampar dibalik jendela. Hijaunya sawah, gagahnya pegunungan, dan jernihnya air sungai. Indah. Sambil menikmati pemandangan, aku membaca buku yang aku bawa selama berada dalam perjalanan. 

Berbeda denganku, yang hanya membaca buku dan menikmati pemandangan diluar. Pak Husain mala berkeliling dari tempat duduk satu ke tempat duduk yang lain. Beliau seolah-seolah berbaur dengan masyarakat. Sesekali terdengar tawa kecil khas beliau berbaur dengan orang-orang. Dan sesekali juga anak-anak menjawab pertanyaan dari pak husain. Beliau tidak hanya berkeliling mencari kursi kosong digerbong kami duduk, beliau pergi ke gerbong sebelah. Aduh… Okelah, aku tunggu saja disini. Di tempat dudukku sendiri. Hahaha 

Setelah berkeliling, beliau kembali ke kursinya dan berkata kepadaku, “Ozy.. ini enaknya naik kereta bisa tau realita masyarakat yang sebenarnya. Kalau saya naik pesawat, saya bosan”. Begitulah kira-kiranya yang dikatakan beliau kepadaku. Beliau dengan mudah berbaur dan berdiskusi dengan orang-orang disekitarnya. Tak lupa pula, aku mendengar kata yang sering beliau katakan, yaitu “luar negeri”!. Iya benar, itulah kata yang paling sering aku dengar, bahkan teman-temanku di kampus pun demikiran. Beliau bercerita tentang luar negeri sebagai cerminan realita hidup disini. Ya begitulah beliau. 

Kami tiba di Banyuwangi kira-kira malam hari. Waktu isya. Kami dijemput oleh pengurus pondok Gontor 5 Banyuwangi. Pengurus itu berbicara dengan Bahasa Arab dengan Pak Husain. Dan aku kali ini aku benar-benar terdiam. Pasalnya aku tak begitu paham dengan Bahasa Arab, hanya beberapa kata saja. Perjalanan ke Pondok Gontor hanya sebentar, kurang lebih 15 menit dari Stasiun. Kami pun sampai. Setelah sholat jama’ ta’khir, kami pun tidur. Kami menempati kamar yang berbeda.
Pagi hari, aku disuruh oleh pak Husain untuk melihat-lihat suasana pondok Gontor. Pagi itu, ada kegiatan di lapangan basket. Aku penasaran dengan kegiatan itu, tapi aku tidak berani melihat secara dekat. Aku amati saja dari jauh. Toh kegiatan itu menggunakan microfon, jadi terdengar sampai ke belakang. Kegiatan itu ternyata latihan pidato berbahasa Asing, khususnya Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Ada satu santri yang berdiri dipanggung itu, dan memulainya dengan salam dan terus dilanjutkan dengan Bahasa Arab. Waahh keren...

Setelah itu, aku pun berkeliling ke semua komplek di pondok Gontor 5. Ternyata yang saya temui adalah Santri putra semua. Tidak ada satu pun santri putri. Belakangan aku dikasih tau bahwa pondok Gontor memang ada yang khusus putra dan ada yang khusus putri. Dan Gontor 5 adalah khusus santri putra. Semakin kagum dengan pendidikan di pondok ini. Sekitar pukul 08.00, aku dan pak Husain disuguhi makan pagi. Waktu itu, aku ingat menunya adalah Ikan. Tak tau apalah jenis ikan tuh. Tapi ikannya besar besar. Mungkin ikan tongkol. Hehe Maklum aku tak tau nama-nama ikan. Setelah makan pagi, pak Husain berbincang-bincang dengan pengasuh pondok presantren Gontor 5. Sedangkan aku bebas berkeliling mengamati kegiatan pondok itu. 

Sore hari, aku dan pak Husain kembali ke Yogyakarta dengan menggunakan kereta. Seperti biasa diperjalanan beliau tidak duduk di kursi yang semestinya beliau duduki. Beliau berkeliling. Setelah perjalanan panjang, pagi harinya kami sampai kembali ke yogya dengan selamat. Perjalanan kerumah, aku menggunakan motor yang aku parkir di Stasiun lempuyangan. Cukup mahal memang. Tapi tidak apa-apalah.

Dan kejadian itu pun terjadi. Setelah aku antar pak Husain ke rumahnya dan sampai digerbang rumahnya. Beliau berpesan kembali, “Ozy.. Jika kamu kelak menjadi seperti saya, maka saya telah gagal mendidikmu. Kamu harus lebih daripada saya”. Lantas aku pun kemudian berpikir. Bagaiaman caranya agar menjadi lebih seperti beliau? Pak Husain kuliah di amerika, Guru Besar FIS UNY, mantan Rektor Univ. Pekalongan, Dosen tamu di Malaysia, tulisan-tulisan beliau sudah tersebar dimana-mana. Kakinya sudah menjelajah ke negeri luar berkali-kali. Lantar bagaimana menjadi lebih seperti beliau? 

Baik. Waktu itu aku berdo’a dan berjanji dengan diriku sendiri. Ya allah, aku ingin mencapai lebih dari apa yang beliau (pak Husain) capai. Kalaupun engkau meridhoi keinginanaku, maka bantulah aku untuk meraihnya. Aamiin

Untuk itu, aku tetap berdoa. Agar beliau tetap sehat dan diberikan kemudahan dalam menghadapi masa-masa tua nya kini. Aamiin

3 Agustus 2017, pukul 4:47 PM