Pagi itu, aku sudah bersiap-siap
berangkat ke stasiun. Ya benar.. hari itu aku menemani Prof. Husain Haikal ke
Banyuwangi. Tujuannya adalah berkunjuk ke pondok pesantren Gontor 5,
Banyuwangi. Aku diajak untuk membantu beliau dalam perjalanan.
Setelah sampai stasiun
lempunyangan dengan menggunakan sepeda motor, aku dan pak husain menunggu
panggilan untuk penumpang kereta Sri Tanjung, tujuan Banyuwangi. Selang
beberapa lama, akhirnya para penumpang diperkenankan untuk masuk ke dalam
wilayah ruang tunggu, untuk masuk ke gerbong kereta, dengan menunjukan tiket
dan kartu identitas. Saat itu, ada perdebatan kecil antara petugas stasiun
dengan pak husain. Pak husain tidak bawa katu identitas yang asli, tetapi hanya
fotocopy KTPnya. Dari belakang, aku hanya bisa diam melihat perdebatan itu.
Tapi yang kau ingat adalah jawaban pak husain yang membuat petugas stasiun itu
terdiam. Kurang lebih seperti ini, “lihat fotocpy KTP ini. Apakah menipu? Hanya
di Indonesia, para penumpang dipersulit!”. Akhirnya, kami dipersilahkan masuk.
Setelah menunggu kurang lebih 10
menit, kereta Sri Tanjung jurusan Banyuwangi siap berangkat dari Lempunyangan.
Aku mencari tempat duduk sesuai dengan apa yang tertera di tiket. Kami berjalan
kearah ekor kereta karena gerbong kami nomer dua dari akhir. Sesekali pak
husain berkata kepadaku, “Ozy.. kalau di Malaysia, pintu gerbong kereta itu
tepat sesuai dengan garus kuning ini”, kata beliau sambil menunjukan garis
penanda jarak penumpang dan kereta. Dan kali itu, aku hanya bisa mengangguk
mengiyakan.
Setelah menemukan duduk, aku
taruh tas kami di kabin tepat diatas tempat duduk kami. Perjalanan
Yogya-Banywangi memakan waktu kurang lebih 12 jam. Perjalanan yang panjang dan
cukup melelahkan. Didekat jendela tempat dudukku, dan disampingku beliau. Aku
menikmati indahnya pemandangan yang terhampar dibalik jendela. Hijaunya sawah,
gagahnya pegunungan, dan jernihnya air sungai. Indah. Sambil menikmati
pemandangan, aku membaca buku yang aku bawa selama berada dalam perjalanan.
Berbeda denganku, yang hanya
membaca buku dan menikmati pemandangan diluar. Pak Husain mala berkeliling dari
tempat duduk satu ke tempat duduk yang lain. Beliau seolah-seolah berbaur
dengan masyarakat. Sesekali terdengar tawa kecil khas beliau berbaur dengan
orang-orang. Dan sesekali juga anak-anak menjawab pertanyaan dari pak husain.
Beliau tidak hanya berkeliling mencari kursi kosong digerbong kami duduk,
beliau pergi ke gerbong sebelah. Aduh… Okelah, aku tunggu saja disini. Di
tempat dudukku sendiri. Hahaha
Setelah berkeliling, beliau
kembali ke kursinya dan berkata kepadaku, “Ozy.. ini enaknya naik kereta bisa
tau realita masyarakat yang sebenarnya. Kalau saya naik pesawat, saya bosan”.
Begitulah kira-kiranya yang dikatakan beliau kepadaku. Beliau dengan mudah
berbaur dan berdiskusi dengan orang-orang disekitarnya. Tak lupa pula, aku
mendengar kata yang sering beliau katakan, yaitu “luar negeri”!. Iya benar,
itulah kata yang paling sering aku dengar, bahkan teman-temanku di kampus pun
demikiran. Beliau bercerita tentang luar negeri sebagai cerminan realita hidup
disini. Ya begitulah beliau.
Kami tiba di Banyuwangi kira-kira
malam hari. Waktu isya. Kami dijemput oleh pengurus pondok Gontor 5 Banyuwangi.
Pengurus itu berbicara dengan Bahasa Arab dengan Pak Husain. Dan aku kali ini
aku benar-benar terdiam. Pasalnya aku tak begitu paham dengan Bahasa Arab,
hanya beberapa kata saja. Perjalanan ke Pondok Gontor hanya sebentar, kurang
lebih 15 menit dari Stasiun. Kami pun sampai. Setelah sholat jama’ ta’khir,
kami pun tidur. Kami menempati kamar yang berbeda.
Pagi hari, aku disuruh oleh pak
Husain untuk melihat-lihat suasana pondok Gontor. Pagi itu, ada kegiatan di
lapangan basket. Aku penasaran dengan kegiatan itu, tapi aku tidak berani
melihat secara dekat. Aku amati saja dari jauh. Toh kegiatan itu menggunakan
microfon, jadi terdengar sampai ke belakang. Kegiatan itu ternyata latihan
pidato berbahasa Asing, khususnya Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Ada satu
santri yang berdiri dipanggung itu, dan memulainya dengan salam dan terus dilanjutkan
dengan Bahasa Arab. Waahh keren...
Setelah itu, aku pun berkeliling
ke semua komplek di pondok Gontor 5. Ternyata yang saya temui adalah Santri
putra semua. Tidak ada satu pun santri putri. Belakangan aku dikasih tau bahwa
pondok Gontor memang ada yang khusus putra dan ada yang khusus putri. Dan
Gontor 5 adalah khusus santri putra. Semakin kagum dengan pendidikan di pondok
ini. Sekitar pukul 08.00, aku dan pak Husain disuguhi makan pagi. Waktu itu,
aku ingat menunya adalah Ikan. Tak tau apalah jenis ikan tuh. Tapi ikannya
besar besar. Mungkin ikan tongkol. Hehe Maklum aku tak tau nama-nama ikan.
Setelah makan pagi, pak Husain berbincang-bincang dengan pengasuh pondok
presantren Gontor 5. Sedangkan aku bebas berkeliling mengamati kegiatan pondok
itu.
Sore hari, aku dan pak Husain
kembali ke Yogyakarta dengan menggunakan kereta. Seperti biasa diperjalanan
beliau tidak duduk di kursi yang semestinya beliau duduki. Beliau berkeliling.
Setelah perjalanan panjang, pagi harinya kami sampai kembali ke yogya dengan
selamat. Perjalanan kerumah, aku menggunakan motor yang aku parkir di Stasiun
lempuyangan. Cukup mahal memang. Tapi tidak apa-apalah.
Dan kejadian itu pun terjadi.
Setelah aku antar pak Husain ke rumahnya dan sampai digerbang rumahnya. Beliau
berpesan kembali, “Ozy.. Jika kamu kelak menjadi seperti saya, maka saya telah
gagal mendidikmu. Kamu harus lebih daripada saya”. Lantas aku pun kemudian
berpikir. Bagaiaman caranya agar menjadi lebih seperti beliau? Pak Husain
kuliah di amerika, Guru Besar FIS UNY, mantan Rektor Univ. Pekalongan, Dosen
tamu di Malaysia, tulisan-tulisan beliau sudah tersebar dimana-mana. Kakinya
sudah menjelajah ke negeri luar berkali-kali. Lantar bagaimana menjadi lebih
seperti beliau?
Baik. Waktu itu aku berdo’a dan
berjanji dengan diriku sendiri. Ya allah, aku ingin mencapai lebih dari apa
yang beliau (pak Husain) capai. Kalaupun engkau meridhoi keinginanaku, maka
bantulah aku untuk meraihnya. Aamiin
Untuk itu, aku tetap berdoa. Agar
beliau tetap sehat dan diberikan kemudahan dalam menghadapi masa-masa tua nya
kini. Aamiin
3 Agustus 2017, pukul 4:47 PM