Thursday, February 9, 2017

Perjalanan



Semua berawal ketika saya bertemu dengan Prof. Dr. Husain Haikal pada saat awal perkuliahan semester 3. Beliau adalah inspirasi bagi saya, seorang dosen sekaligus seperti orang tua saya sendiri. Pembelajaran Prof. Haikal dikelas memang berbeda dengan dosen-dosen yang lain. Pemikirannya sangat jauh kedepan, dan saya kadang kesulitan dan terseok-seok dalam mengikuti pembelajarannya. Satu kalimat yang selalu saya ingat dari beliau adalah “Jangan takut bermimpi. Terus Berusaha dan Berdoa. Jika mereka bisa, kenapa kita tidak?”. Dari semua motivasi dan cerita inspirasi yang beliau tularkan kepada kami, dari situlah saya mulai berani untuk bermimpi besar. Menjadi seorang yang seperti beliau, bahkan lebih. Dan saat itulah saya mulai berjuang.

Mimpi saya benar-benar terjawab pasca progam KKN-PPL selesai. Awal semester 7, saya terpilih menjadi salah satu delegasi UNY untuk mengikuti progam PPM-LN (Pengayaan Pengalaman Mengajar-Luar Negeri) di Sekolah Indonesia Singapura selama kurang lebih 3 bulan (Oktober-Desember 2015) di Singapura. PPM-LN merupakan progam kerjasama antara Atase Pendidikan KBRI Singapura dan UNY untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melaksanakan praktek mengajar di Sekolah Indonesia di luar negeri agar mendapakan pengalaman dan wawasan internasional yang lebih baik sebagai bekal menjadi calon pendidik. Bersama tiga teman yang lain, kami mengembangkan skill mengajar secara presional dikelas. Begitu juga dalam skill bahasa. Hidup dinegeri orang, menuntut saya untuk dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Dari sini saya memberanikan diri untuk berkeliling ke beberapa wilayah Singapore, hanya sekedar mencari teman ngobrol dalam berbahasa asing.
Selama di Singapore, kami tinggal di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura. Kami juga mulai mengenal orang-orang penting, yang menjadi representasi Indonesia di Luar Negeri. Dan selama tinggal disana (dalam waktu yang cukup lama), kadang saya merasa rindu akan hidup Indonesia. Ternyata benar adanya, kita belum sepenuhnya bisa melihat/merasakan keindahan Indonesia, sebelum kita melangkahkan kaki jauh ke negeri orang. 

Selanjutnya, Adalah negara Thailand yang saya kunjungi. Saya kembali terpilih menjadi salah satu Delegasi UNY, dari 8 mahasiswa (FIS: 3 orang, FIP: 2 orang, dan FIK: 3 orang), dalam progam The 3th International ASEAN Culture Camp: ISAAN Culture di Suranaree University of Technology, Nakhon ratchasima, Thailand, tanggal 19-25 Juni 2016. Acara ini diikutui oleh berbagai negara di ASEAN (Indonesia, Malaysia, Singapore, Brunei, Philipina, Vietnam, Laos, Cambodia, dan Thailand), +China, Jerman, dan Perancis. Acara ini mencakup berbagai macam kegiatan seperti Lecture, Culture Exchange Performance, Rekreasi, Volunteers di Sekolah dan Desa setempat, dan belajar mengenal seni dan budaya Thailand. Kegiatan ini peserta camp memiliki kesempatan untuk berlatih berbahasa asing dan pemahaman tentang budaya ASEAN agar dapat menghormati satu sama lain. 

Bergaul dengan mahasiswa-mahasiswa Asing, terutama mahasiswa ASEAN, saya merasakan bahwa kami adalah keluarga dekat, padahal saya baru mengenal mereka. Satu hal yang tidak pernah kami lupakan ketika diakhir acara malam perpisahan “Farwell party”. Kami semua menangis, bukan hanya saya, tapi sebagian besar dari kita menangis. Saya berpikir bahwa ASEAN adalah memang seperti keluarga bagi Indonesia. Saya yakin ASEAN suatu saat akan menjadi organisasi besar seperti EU (European Union). Hingga detik ini, saya masih berhubungan dengan mereka dengan baik.
Negara ketiga yang saya kunjungi adalah Jepang. Saya mengikuti acara sebagai Presenter dalam The 6th International Conference on History and Society Development (ICHSD) 29-30 Desember 2016 di Jepang.  Acara ini diselenggarakan tahunan oleh IEDRC (International Economic Development Research Center). Bersama teman saya, kami berhasil memperoleh penghargaan sebagai The Best Oral Presentation dalam acara ICHSD 2016 ini. Pengalaman yang luar biasa bagi kami bisa berkumpul dengan para peneliti seluruh dunia. Kami kadang merasa minder, karena rata-rata yang menjadi Presenter dalam acara ICHSD ini, sudah memiliki gelar M.A atau Ph.D dan bahkan sudah Profesor. Sedangkan kami, masih tingkat Undergradute Degree. Tetapi saya yakin, hal ini sangatlah bermanfaat bagi kami untuk menjadi seorang peneliti muda di masa depan. Amiin.
Selain itu, saya juga terpilih menjadi perwakilan UNY dalam acara New Colombo Plan Yogyakarta Young Leader’s Conference, Yogyakarta, yang diadakan oleh Australian Embassy in Jakarta pada tanggal 27-28 Juli 2016 di Yogyakarta. Acara ini adalah berkumpulnya 5 Young Australian Leaders and 5 Young Indonesian Leaders dan berdiskusi tentang beberapa topik tentang kerjasama Indonesia-Australia dalam bidang pendidikan, diplomasi, youth participant dan lain-lain. Lain. Acara ini bertujuan untuk membangun valuable poeple-to-poeple links dan kerjasama antar pemuda antara Indonesia dan Australia.
Memang tidak mudah untuk mengikuti acara ini, walaupun saya merasa tidak terlalu sulit. Syarat untuk mengikuti acara ini adalah mengirim CV dan menulis Essay maximal 300 Kata dengan topic “How Sould Young Australians and Indonesians Work Together in The Future”. Menurut panitia, kurang lebih ada 200 Applicant yang mendaftar acara ini. Tetapi hanya terpilih 5 orang dari Indonesia dan saya termasuk salah satunya. Dalam acara ini, kami mengunjungi beberapa tempat yaitu Masjid Gedhe Kauman, mengunjungi DPRD Kota Yogyakarta, mengunjungi Yayasan Peduli, Development and Aid Program – Disability and Inclusiveness Project Visit, Jogja Independent (JOINT), dan mengikuti konferensi Kementerian Luar Negeri RI dan Australian Emabassy di Hotel Tentrem dengan tema “Indonesia & Australia Comprehensive Partnership : How Does it Work to Address the Current Regional Geopolitical Development?”. Pengalaman yang luar biasa bagi saya berkumpul dengan mereka.
Selain itu, saya juga menjadi Presenter dalam acara the 4th International Conference on Educational Research and Innovation (ICERI) dengan judul “Character Education in (Singapore) Indonesian School”, tanggal 11-12 Mei 2016 di Yogyakarta. Dan ikut menjadi Fasilitator dalam acara Urban Youth Meeting di Surabaya, held by UN-HABITAT III pada tanggal 24 Juli 2016.
Dan Sekarang saya aktif dalam komunitas Seribu Mimpi, yaitu komunitas yang bergerak bidang pelatihan kepenulisan untuk anak-anak yatim, khususnya di Panti Asuhan di Yogyakarta. Komunitas ini dibawah Yayasan SenyumKita. Dari sini, saya bertemu dengan orang-orang hebat dan penuh inspirasi.

Salam Hangat,
Oz_Besar

No comments:

Post a Comment